Modul 7 · Biostatistik · Semester Ganjil 2026/2027
Program Studi D4 Teknologi Laboratorium Medik, Universitas Syedza Saintika
Setelah modul ini, Anda mampu:
Yang diuji adalah H₀. Kita tidak pernah “membuktikan H₁”; kita hanya menilai apakah data cukup kuat untuk menolak H₀.
| Pertanyaan | H₀ | H₁ |
|---|---|---|
| Beda rerata dua kelompok | Tidak terdapat perbedaan rerata kadar Hb antara perokok dan bukan perokok (μ₁ = μ₂) | Terdapat perbedaan rerata kadar Hb antara perokok dan bukan perokok (μ₁ ≠ μ₂) |
| Hubungan dua variabel numerik | Tidak terdapat korelasi antara kadar prokalsitonin dan jumlah leukosit (ρ = 0) | Terdapat korelasi antara kadar prokalsitonin dan jumlah leukosit (ρ ≠ 0) |
| Hubungan dua variabel kategorik | Tidak terdapat hubungan antara status merokok dan hasil rapid test | Terdapat hubungan antara status merokok dan hasil rapid test |
Temuan yang sering muncul di naskah skripsi
Pastikan tiga hal selaras: judul (“perbedaan” atau “hubungan”) ↔︎ hipotesis ↔︎ uji statistik. Jika salah satu tidak cocok, penguji akan langsung melihatnya.
Seperti persidangan: terdakwa dianggap tidak bersalah (H₀) sampai bukti cukup kuat untuk menyatakan sebaliknya.
Perhatikan istilah: “gagal menolak H₀”, bukan “menerima H₀”. Seperti hakim yang memutus “tidak terbukti bersalah”, bukan “terbukti tidak bersalah” (ingat modul 6: tidak adanya bukti bukan bukti ketiadaan).
Nilai p adalah peluang memperoleh hasil sekuat atau lebih kuat dari yang kita amati, jika H₀ benar.
Pada gambar, statistik uji = 2,3 menghasilkan p (dua sisi) = 0,021 (luas daerah biru tua di kedua ekor).
| Benar | Salah |
|---|---|
| “Jika sebenarnya tidak ada perbedaan, hasil sebesar ini hanya muncul sekitar 2 dari 100 kali.” | “Peluang H₀ benar adalah 2%.” |
| “Data cukup kuat untuk menolak H₀ pada α = 0,05.” | “Ada 98% peluang hipotesis saya benar.” |
| “p = 0,001 berarti efeknya sangat besar.” | |
| “p = 0,06 berarti tidak ada perbedaan.” |
Nilai p tidak mengukur besar efek dan tidak mengukur pentingnya hasil secara klinis. p kecil bisa berasal dari efek kecil pada sampel besar.
(Wasserstein & Lazar, 2016)
Mengganti ke uji satu sisi setelah melihat p = 0,08 agar menjadi 0,04 adalah manipulasi data.
| H₀ sebenarnya benar | H₀ sebenarnya salah | |
|---|---|---|
| Tolak H₀ | Galat tipe I (α), positif palsu | Keputusan benar (power = 1 − β) |
| Gagal menolak H₀ | Keputusan benar | Galat tipe II (β), negatif palsu |
Analogi laboratorium:
Nilai p yang kecil belum tentu berarti perbedaannya penting bagi pasien.
Contoh dari dataset berjalan: Hb laki-laki vs perempuan.
| Laki-laki (n = 32) | Perempuan (n = 28) | |
|---|---|---|
| Rerata ± SD (g/dL) | 14,92 ± 1,13 | 13,05 ± 1,08 |
Kalimat hasil yang baik:
“Kadar Hb laki-laki lebih tinggi 1,88 g/dL (IK 95%: 1,30 sampai 2,45) dibanding perempuan, dan perbedaan ini bermakna secara statistik (p < 0,001).”
Kalimat ini memberi tahu arah, besar, ketelitian, dan kemaknaan. Bandingkan dengan kalimat miskin informasi: “Terdapat perbedaan bermakna (p = 0,000).”
Di dataset berjalan, Hb perokok (14,79) lebih tinggi daripada bukan perokok (13,75), p = 0,011. Apakah merokok terbukti berhubungan dengan Hb?
Ingat modul 2: 15 dari 17 perokok adalah laki-laki, dan laki-laki memang punya Hb lebih tinggi.
Jika dibandingkan hanya pada laki-laki: perokok 15,05 vs bukan perokok 14,82 g/dL, p = 0,58.
Sebagian besar perbedaan awal ternyata berasal dari komposisi jenis kelamin (perancu). Namun dengan hanya 15 dan 17 subjek, power juga rendah, jadi kita tidak boleh menyimpulkan merokok “tidak berpengaruh”.
Nilai p hanya menjawab satu pertanyaan sempit. Desain, perancu, dan besar sampel tetap harus dipikirkan.
Contoh dari naskah skripsi
Hasil korelasi Spearman r = 0,393 dan bermakna secara statistik. Kesimpulan di BAB VI hanya: “Terdapat hubungan antara prokalsitonin dan leukosit.”
Kesimpulan belum lengkap. Tambahkan arah (positif) dan kekuatan menurut pedoman yang Anda rujuk (misalnya menurut Sugiyono, r 0,20 sampai 0,399 tergolong rendah). Contoh:
“Terdapat korelasi positif dengan kekuatan rendah antara prokalsitonin dan leukosit (r = 0,393; p < 0,05).”
Korelasi rendah berarti kedua parameter tidak bisa saling menggantikan. Ini temuan klinis yang penting untuk dibahas.
Sekarang Anda punya fondasi. Modul 8 sampai 14 membahas memilih dan menjalankan uji.
| Tujuan | Data numerik normal | Numerik tidak normal / ordinal | Kategorik |
|---|---|---|---|
| Beda 2 kelompok independen | uji t independen | Mann-Whitney | Chi-square / Fisher |
| Beda 2 pengukuran berpasangan | uji t berpasangan | Wilcoxon | McNemar |
| Beda > 2 kelompok independen | ANOVA + post-hoc | Kruskal-Wallis + post-hoc | Chi-square |
| Hubungan dua variabel | Pearson | Spearman | Chi-square |
Judul: “Hubungan kadar HbA1c dengan kadar kreatinin serum pada pasien DM tipe 2.”
Tuliskan H₀ dan H₁.
Jawaban:
Tentukan benar atau salah:
“p = 0,03 berarti peluang H₀ benar adalah 3%.”
“p = 0,20 membuktikan tidak ada perbedaan.”
“Menambah jumlah sampel dapat menurunkan galat tipe II.”
Jawaban:
Salah. p adalah peluang data sekuat itu jika H₀ benar, bukan peluang H₀ benar.
Salah. Kita hanya gagal menolak H₀. Bisa jadi power terlalu rendah.
Benar. n lebih besar menaikkan power (1 − β), sehingga β turun.
Hasil uji ANOVA kadar trombosit pada 4 kelompok serologi dengue: p = 0,012. Kesimpulan mahasiswa: “Trombosit kelompok IgM+IgG+ paling rendah dan berbeda dari semua kelompok lain.”
Apa yang kurang?
Jawaban: ANOVA hanya menunjukkan setidaknya satu kelompok berbeda. Untuk menyatakan kelompok mana yang berbeda dari mana, harus dilakukan uji post-hoc (misalnya Tukey HSD jika varians homogen, Games-Howell jika tidak). Tanpa post-hoc, klaim “berbeda dari semua kelompok lain” tidak didukung data.
Pastikan Anda sudah bisa:
Mulai Modul 8, siapkan laptop dengan SPSS atau JASP dan semua dataset dari halaman Daftar modul.

Biostatistik · Prodi D4 TLM · Universitas Syedza Saintika