Produk dipasok dan milik pelanggan

Sistem Manajemen Mutu II, Pertemuan 13

Bramadi Arya, S.Si., M.Biotech.

Program Studi D4 Teknologi Laboratorium Medik, Universitas Syedza Saintika

Yang kita kerjakan hari ini

Sub-CPMK-13 (RPS): Menganalisis pengendalian produk yang dipasok dan produk milik pelanggan dalam sistem mutu laboratorium.

  1. Apa yang termasuk produk yang dipasok.
  2. Alur penerimaan reagen dan verifikasi lot baru.
  3. Spesimen sebagai produk milik pelanggan.
  4. Studi kasus dan checklist penerimaan.

Dari rancangan ke barang yang datang

  • Pertemuan 12: metode dirancang dan divalidasi dengan reagen tertentu.
  • Hari ini: bagaimana kita memastikan reagen yang datang berikutnya setara dengan yang dulu divalidasi.
  • Pertemuan 9: lot reagen harus tercatat di setiap hasil.

Metode yang sudah tervalidasi bisa rusak diam-diam lewat satu lot reagen baru.

Produk yang dipasok: bukan hanya reagen

Kelompok Contoh
Reagen dan bahan habis pakai Reagen, kontrol, kalibrator, tabung, tips
Peralatan Alat analisis, pipet, pendingin
Layanan Kalibrasi, pemeliharaan, laboratorium rujukan

Alur penerimaan reagen

Alur penerimaan reagen: reagen tiba, cek kemasan dan sertifikat, sesuai atau tidak, tolak atau verifikasi lot baru, simpan dan catat

Alur penerimaan reagen.

Diagram buatan sendiri.

Kriteria menerima dan menolak

Periksa Diterima bila Ditolak atau dikarantina bila
Kemasan Utuh Rusak, bocor
Suhu penerimaan Sesuai syarat penyimpanan Di luar syarat
Kedaluwarsa Masih cukup lama Lewat atau terlalu dekat
Dokumen Lot dan sertifikat cocok Tidak lengkap

Verifikasi lot reagen baru

  • Lot baru bisa berbeda dari lot lama meskipun merek sama.
  • Prinsip: ukur sampel atau kontrol yang sama dengan lot lama dan lot baru, lalu bandingkan dengan batas perbedaan yang diizinkan.
  • Kim dkk. (2021) menguji protokol CLSI EP26-A pada 83 pemeriksaan kimia klinik di tiga laboratorium.
  • Pada lebih dari separuh pemeriksaan, satu sampel pasien per tingkat keputusan sudah cukup.
  • Batas penolakan yang lebih ketat dari perbedaan kritis membuat lot bermasalah lebih mudah terdeteksi.

Lot baru: contoh alur sederhana

  1. Siapkan 3 sampel pasien yang mencakup tingkat keputusan.
  2. Ukur dengan lot lama dan lot baru pada hari yang sama.
  3. Hitung selisih tiap sampel dan bandingkan dengan batas yang ditetapkan laboratorium.
  4. Bila di dalam batas, lot baru diterima dan dicatat. Bila di luar, tahan lot dan hubungi pemasok.

Bahan kontrol sebagai produk dipasok: contoh uji TB

  • Panel uji profisiensi untuk Xpert MTB/RIF dibuat dari bahan nonpatogen dalam kurang dari tujuh hari.
  • Panel tetap stabil lebih dari 15 bulan pada 4 derajat Celsius.
  • Pada uji pilot di 11 laboratorium, dua laboratorium menunjukkan hasil tidak cocok. Penyebabnya perbedaan prosedur dan sampel yang hilang.

Spesimen adalah milik pelanggan

  • Sampel dan data pasien adalah milik pelanggan yang dipercayakan kepada laboratorium.
  • Laboratorium wajib menjaga identitas, keutuhan, dan kerahasiaan.
  • Bila sampel hilang, rusak, atau tidak layak, laboratorium memberi tahu pemilik dan mencatatnya.

Studi kasus: kotak reagen datang dengan cold pack yang sudah mencair

Di laboratorium klinik X, kotak reagen kimia klinik tiba sore hari. Petugas mendapati cold pack sudah lembek dan kotak terasa hangat. Pemasok mengatakan reagen biasanya tahan beberapa jam di suhu ruang, dan kurir sudah pergi.

  1. Apa yang dilakukan petugas pada saat itu?
  2. Informasi apa yang diminta dari pemasok?
  3. Apa yang dicatat, dan siapa yang diberi tahu?

Kotak pembawa berpendingin

Latihan: checklist penerimaan

Buat checklist satu halaman untuk penerimaan reagen yang memuat:

  • Identitas barang, lot, kedaluwarsa.
  • Kondisi kemasan dan suhu.
  • Dokumen yang menyertai.
  • Keputusan terima, tahan, atau tolak, beserta tanda tangan.

Penilaian pertemuan ini

  • Teknik penilaian: studi kasus.
  • Yang dinilai: ketepatan analisis pengendalian produk, kelengkapan dan keakuratan checklist, kemampuan menentukan kriteria terima dan tolak, pemahaman produk milik pelanggan, dan partisipasi.

RPS TLM OBE-139b, Sub-CPMK-13

Benang merah

  • Pertemuan 14: penjaminan mutu untuk penyakit menular dan tidak menular.
  • Pertemuan 15: observasi penerapan di laboratorium.

Ringkasan

  • Produk yang dipasok mencakup reagen, peralatan, dan layanan.
  • Penerimaan memeriksa kemasan, suhu, kedaluwarsa, dan dokumen.
  • Lot reagen baru diverifikasi sebelum dipakai, dengan batas yang ditetapkan laboratorium.
  • Spesimen dan data pasien adalah milik pelanggan yang wajib dijaga.

Rujukan

  • Kim S, Chang J, Kim SK, Park S, Huh J, Jeong TD. Sample size and rejection limits for detecting reagent lot variability: analysis of the applicability of the CLSI EP26-A protocol to real-world clinical chemistry data. Clin Chem Lab Med. 2021;59(1):127-138. doi:10.1515/cclm-2020-0454
  • Guan Z, Han X, Huang W, Wang X, Wang H, Fan Y. Construction and application of a heterogeneous quality control library for the Xpert MTB/RIF assay in tuberculosis diagnosis. Front Cell Infect Microbiol. 2023;13:1128337. doi:10.3389/fcimb.2023.1128337

Terima kasih

Istilah: Kalibrator

Bahan dengan nilai yang sudah ditetapkan, dipakai untuk menyetel hubungan antara sinyal alat dan konsentrasi. Kalibrator berbeda dari bahan kontrol, yang dipakai untuk memantau.

Contoh: Setelah ganti lot reagen, alat dikalibrasi ulang dengan kalibrator dari pabrikan.

Istilah: Karantina

Barang dipisahkan dan diberi tanda tidak boleh dipakai sampai ada keputusan diterima atau ditolak.

Contoh: Reagen yang tiba dalam keadaan hangat disimpan terpisah dengan label “jangan dipakai” sambil menunggu jawaban pemasok.

Istilah: Uji profisiensi (EQA)

Penilaian mutu dari pihak luar. Penyelenggara mengirim sampel yang nilainya tidak diketahui peserta. Laboratorium memeriksanya seperti sampel pasien, lalu hasilnya dibandingkan dengan nilai target atau dengan hasil laboratorium lain. Di Indonesia dikenal sebagai Pemantapan Mutu Eksternal (PME).

Contoh: Laboratorium menerima serum kontrol dari penyelenggara PME tiga kali setahun, memeriksa glukosa dan kolesterolnya, lalu mengirim hasilnya untuk dinilai.

Istilah: Xpert MTB/RIF (TCM)

Tes molekuler otomatis berbasis PCR dalam kartrid yang mendeteksi Mycobacterium tuberculosis sekaligus resistansi terhadap rifampisin. Di Indonesia dikenal sebagai Tes Cepat Molekuler (TCM).

Contoh: Sampel dahak dimasukkan ke kartrid, hasil keluar dalam sekitar dua jam.