Studi Kasus Masalah Mutu: Troubleshooting, RCA, dan CAPA

Sistem Manajemen Mutu II, Pertemuan 7

Bramadi Arya, S.Si., M.Biotech.

Program Studi D4 Teknologi Laboratorium Medik, Universitas Syedza Saintika

Yang kita kerjakan hari ini

Sub-CPMK-07 (RPS): Menganalisis studi kasus permasalahan mutu laboratorium dengan teknik troubleshooting dan root cause analysis.

  1. Dari troubleshooting ke akar penyebab.
  2. Tiga alat RCA: fishbone, 5 Why, dan fault tree.
  3. Dua kasus untuk dibahas berkelompok.
  4. CAPA: apa yang dikerjakan setelah akar penyebab ketemu.

Minggu lalu kita mencari tahu apa yang salah

  • Pada troubleshooting, kita mengenali masalah dan menelusuri penyebabnya.
  • Hari ini pertanyaannya naik satu tingkat: mengapa hal itu bisa terjadi?
  • Perbaikan yang berhenti di gejala hanya membuat masalah reda untuk sementara.

Memperbaiki gejala membuat masalah reda. Menemukan akar penyebab membuatnya tidak kembali.

Kesalahan laboratorium paling sering terjadi sebelum sampel sampai ke alat

  • Review Srinivasaragavan dkk. (2024) merangkum bahwa 80 sampai 93% kesalahan laboratorium berasal dari tahap pra-analitik.
  • Hasil QC yang bagus belum menjamin hasil pasien yang benar.
  • Karena itu, RCA tidak boleh berhenti di meja alat.

Siapa saja yang terlibat sebelum sampel masuk ke laboratorium?

Satu masalah, tiga hal yang perlu dikerjakan

Tindakan Tujuan Contoh untuk hasil QC di luar batas
Tindakan segera (koreksi) Menghentikan dampak ke pasien Tahan hasil pasien, ulang QC, periksa kalibrasi
Analisis akar penyebab (RCA) Mengetahui mengapa masalah terjadi Lot reagen baru belum dikalibrasi
Tindakan pencegahan Mencegah masalah muncul lagi Tambahkan kalibrasi ke SOP penggantian lot

ISO 15189:2022, klausul 7.5 dan 8.7

Alurnya berurutan, dari temuan sampai pembuktian

  1. Temukan dan catat ketidaksesuaian.
  2. Lakukan tindakan segera supaya pasien tidak terdampak.
  3. Cari akar penyebab dengan alat RCA.
  4. Rancang tindakan koreksi dan pencegahan (CAPA).
  5. Periksa apakah tindakan itu benar-benar berhasil.

Fishbone: memetakan semua kemungkinan penyebab

Diagram fishbone dengan enam kategori penyebab: manusia, metode, alat, reagen dan kontrol, lingkungan, spesimen, yang bermuara pada hasil QC di luar batas

Contoh fishbone untuk hasil QC di luar batas.

Diagram buatan sendiri; contoh penyebab: Ialongo, 2025

Cara memakai fishbone

  1. Tulis masalahnya di kepala ikan dalam satu kalimat yang jelas.
  2. Tentukan kategori penyebab. Biasanya sekitar enam.
  3. Kumpulkan kemungkinan penyebab dari seluruh anggota tim, satu per satu.
  4. Tandai penyebab yang paling mungkin, lalu uji dengan data.

Fishbone mendaftar kemungkinan penyebab. Diagram ini belum menunjukkan mana yang benar.

5 Why: bertanya mengapa sampai ketemu penyebab yang bisa diperbaiki

Masalah: bahan kontrol internal berada di luar rentang yang diterima, sehingga hasil ditolak dan pemeriksaan diulang.

Mengapa Jawaban
1 Pemeriksaan dilakukan dengan cara yang keliru.
2 Satu langkah penting terlewat.
3 Analis belum dilatih untuk metode itu.
4 Metode itu belum ada di dokumen pelatihan.
5 Metode ditambahkan ke ruang lingkup akreditasi sebelum dokumen pelatihan ditinjau.

Diadaptasi dari Mathews, 2023

Berhenti di jawaban yang tepat

  • Jawaban pertama biasanya masih berupa gejala. Teruslah bertanya.
  • Berhenti ketika jawabannya adalah hal yang bisa diperbaiki oleh sistem.
  • “Analis lalai” belum akar penyebab. Tanyakan mengapa sistem membiarkan kelalaian itu terjadi.
  • Jumlah pertanyaan tidak harus lima: tiga atau empat untuk masalah sederhana, tujuh atau delapan untuk yang rumit.

Fault tree: menelusuri penyebab dengan logika ATAU dan DAN

Diagram fault tree untuk hasil QC di luar batas dengan gerbang ATAU dan DAN

Gerbang ATAU: satu penyebab saja sudah cukup. Gerbang DAN: semua penyebab harus terjadi bersamaan.

Diagram buatan sendiri.

Langkah membuat fault tree

  1. Tentukan kejadian puncak, yaitu masalah yang diselidiki.
  2. Identifikasi kejadian dasar yang mungkin menyebabkannya.
  3. Susun pohon dengan gerbang logika (DAN, ATAU, TIDAK).
  4. Beri probabilitas pada tiap kejadian bila datanya ada.
  5. Analisis jalur yang paling kritis.
  6. Tentukan langkah untuk menurunkan risikonya.
  7. Dokumentasikan dan sampaikan temuannya.

Memilih alat yang sesuai

Alat Cocok untuk Perlu diingat
Fishbone Masalah baru yang penyebabnya belum terbayang Hanya mendaftar kemungkinan, belum menguji
5 Why Masalah sederhana dengan satu jalur sebab Bisa terlalu menyederhanakan masalah yang punya banyak penyebab
Fault tree Masalah rumit dengan penyebab yang bisa terjadi bersamaan Lebih lama dibuat

Masalah mutu muncul di tiga tahap

Tahap Contoh masalah Pertanyaan awal untuk RCA
Pra-analitik Sampel hemolisis, volume kurang, identitas keliru Siapa dan di mana sampel ini diambil?
Analitik Kontrol bergeser, kalibrasi gagal, jarum tersumbat Apa yang berubah sejak kontrol terakhir masih baik?
Pasca-analitik Salah input hasil, pelaporan terlambat, nilai kritis tidak dilaporkan Siapa yang memeriksa hasil sebelum dikirim?

Kasus 1: kontrol yang bergeser

Bagan Levey-Jennings untuk total protein pada dua tingkat konsentrasi selama dua bulan

Bagan Levey-Jennings total protein pada dua tingkat konsentrasi, dua bulan. Titik dibedakan menurut diterima, ditolak aturan Westgard, atau melewati batas total error yang diperbolehkan.

Gruber dkk., 2024, Gambar 2, CC BY 3.0

Kasus 1: tugas kelompok

Anggap kelompok kalian adalah tim mutu yang menemukan pola seperti pada bagan. Hasil pasien hari itu sudah keluar.

  1. Tindakan segera apa yang kalian ambil?
  2. Susun fishbone dengan enam kategori.
  3. Pilih satu penyebab paling mungkin, lalu telusuri dengan 5 Why.
  4. Data apa yang kalian minta untuk membuktikannya?

Gruber dkk., 2024, Gambar 2, CC BY 3.0; Ialongo, 2025

Kasus 2: sampel koagulasi sering ditolak

  • Sebuah penelitian menelaah 1.035.743 tabung darah di laboratorium kimia klinik selama satu tahun.
  • Sebanyak 0,65% sampel ditolak karena kesalahan pra-analitik.
  • Pada pemeriksaan koagulasi, angkanya jauh lebih tinggi: 2,28%.
  • Penyebab yang menonjol: volume sampel tidak cukup, permintaan pemeriksaan yang tidak terbaca, dan label sampel rawat inap yang tidak benar.

Kasus 2: tugas kelompok

Laboratorium kalian menemukan bahwa sampel koagulasi ditolak lebih sering daripada pemeriksaan lain.

  1. Tulis pernyataan masalahnya dalam satu kalimat.
  2. Telusuri penyebabnya dengan 5 Why.
  3. Rancang satu tindakan koreksi dan satu tindakan pencegahan.
  4. Tentukan indikator yang menunjukkan tindakan itu berhasil.

Cara kerja kelompok

  • Bagi peran: penanggung jawab mutu, analis yang bertugas, petugas pengambil sampel, dan kepala laboratorium.
  • Bahas sistemnya, bukan siapa yang salah.
  • Setiap kelompok mencatat hasilnya dalam satu fishbone atau satu tabel 5 Why.
  • Diskusi 15 menit, presentasi 3 menit per kelompok.

Pertanyaan yang baik: apa yang membuat kesalahan ini mungkin terjadi?

CAPA: tindakan koreksi dan pencegahan itu berbeda

Tindakan koreksi Tindakan pencegahan
Menjawab Bagaimana memperbaiki yang sudah terjadi? Bagaimana mencegah hal serupa terulang?
Contoh dari kasus 5 Why Latih analis yang bersangkutan, lalu ulang pemeriksaan kontrol Masukkan setiap metode baru ke dokumen pelatihan sebelum metode itu dipakai

Diadaptasi dari Mathews, 2023

CAPA yang baik bisa diukur

Tindakan Penanggung jawab Tenggat Indikator keberhasilan
Masukkan metode ke dokumen pelatihan Penanggung jawab mutu 2 minggu Dokumen pelatihan memuat metode baru
Latih seluruh analis Manajer teknis 1 bulan Semua analis lulus penilaian kompetensi
Tambah langkah tinjau dokumen pelatihan di prosedur penambahan metode Penanggung jawab mutu 1 bulan Prosedur direvisi dan disahkan
Periksa efektivitas Penanggung jawab mutu 3 bulan Tidak ada kontrol keluar batas akibat langkah terlewat

Tindakan tanpa indikator tidak bisa dibuktikan berhasil.

Penilaian pertemuan ini

Skor Kriteria (RPS)
90 sampai 100 Analisis sangat komprehensif, RCA mendalam, CAPA terukur
75 sampai 89 Analisis baik, RCA sistematis, CAPA jelas
60 sampai 74 Analisis cukup, RCA dasar, CAPA sederhana
Di bawah 60 Analisis kurang, RCA tidak lengkap atau CAPA tidak terukur

Indikator yang dinilai: ketepatan akar penyebab, kelengkapan penggunaan alat RCA, kualitas rancangan CAPA, kejelasan presentasi, dan partisipasi dalam diskusi.

Benang merah

  • Pertemuan 6: mengenali masalah mutu dan menelusuri penyebabnya.
  • Pertemuan 7: menemukan akar penyebab dan merancang CAPA.
  • Setelah UTS, pertemuan 9 membahas identifikasi dan ketertelusuran produk.

Kalau satu lot reagen ternyata bermasalah, bagaimana kita tahu hasil pasien mana saja yang terdampak?

Ringkasan

  • Tindakan segera melindungi pasien hari ini. RCA mencari tahu mengapa. CAPA mencegah masalah terulang.
  • Fishbone memetakan kemungkinan, 5 Why menelusuri satu jalur sebab, fault tree menunjukkan penyebab yang bisa terjadi bersamaan.
  • Akar penyebab yang baik adalah sesuatu yang bisa diperbaiki oleh sistem, bukan sekadar nama orang.
  • CAPA harus punya penanggung jawab, tenggat, dan indikator keberhasilan.

Rujukan: review dan artikel terbaru

  • Srinivasaragavan D, Ramalingam K, Ramani P. Root cause analysis: unraveling common laboratory challenges. Cureus. 2024;16(2):e53393. doi:10.7759/cureus.53393
  • Gruber L, Hausch A, Mueller T. Internal quality controls in the medical laboratory: a narrative review of the basic principles of an appropriate quality control plan. Diagnostics. 2024;14(19):2223. doi:10.3390/diagnostics14192223
  • Linko S, Boursier G, Bernabeu-Andreu FA, dkk. EN ISO 15189 revision: EFLM Committee Accreditation and ISO/CEN standards (C: A/ISO) analysis and general remarks on the changes. Clin Chem Lab Med. 2025. doi:10.1515/cclm-2024-1451
  • Ialongo C. Use of Hotelling’s T2 multivariate control chart for effective monitoring of a laboratory test with a 3-level quality control scheme. Biochem Med (Zagreb). 2025;35(2):020701. doi:10.11613/BM.2025.020701

Rujukan: standar, buku, dan artikel klasik

  • International Organization for Standardization. ISO 15189:2022 Medical laboratories: requirements for quality and competence. Geneva: ISO.
  • Westgard JO, Westgard SA. Basic QC practices, 4th ed. Madison: Westgard QC.
  • Atay A, Demir L, Cuhadar S, dkk. Clinical biochemistry laboratory rejection rates due to various types of preanalytical errors. Biochem Med (Zagreb). 2014;24(3):376-382. doi:10.11613/BM.2014.040
  • Mathews C. Cause analysis: the 5 whys method. Medical Laboratory Observer. 15 Juni 2023.
  • College of American Pathologists. Poster ISO 15189 (untuk nomor klausul).

Terima kasih

Istilah: Analisis akar penyebab (RCA)

Root cause analysis: penelusuran untuk menemukan penyebab dasar suatu masalah, bukan hanya gejalanya, supaya masalah tidak terulang.

Contoh: Kontrol sering keluar batas bukan karena “analis lalai”, tetapi karena metode baru belum ada di dokumen pelatihan.

Istilah: CAPA

Corrective and preventive action: tindakan koreksi untuk memperbaiki masalah yang sudah terjadi dan tindakan pencegahan agar tidak terulang.

Contoh: Koreksi: melatih ulang analis. Pencegahan: setiap metode baru wajib masuk dokumen pelatihan sebelum dipakai.

Istilah: Diagram fishbone

Diagram tulang ikan (diagram Ishikawa) untuk memetakan kemungkinan penyebab masalah dalam beberapa kategori, misalnya manusia, metode, alat, bahan, lingkungan, dan spesimen.

Contoh: Masalah “kontrol di luar batas” ditulis di kepala ikan, kemungkinan penyebabnya ditulis di tiap tulang.

Istilah: Metode 5 Why

Cara menelusuri akar penyebab dengan bertanya “mengapa” berulang kali sampai ditemukan penyebab yang bisa diperbaiki oleh sistem.

Contoh: Mengapa kontrol ditolak? Langkah terlewat. Mengapa? Analis belum dilatih. Mengapa? Metode belum ada di dokumen pelatihan.

Istilah: Fault tree

Diagram pohon dari satu kejadian masalah ke penyebab-penyebabnya, memakai gerbang logika DAN (semua penyebab harus terjadi) dan ATAU (satu penyebab cukup).

Contoh: Hasil salah dilaporkan ATAU karena salah input, ATAU karena kontrol gagal DAN tidak ada yang memeriksa.

Istilah: Nilai kritis

Hasil pemeriksaan yang menunjukkan keadaan yang dapat mengancam jiwa sehingga harus segera dilaporkan kepada dokter atau perawat, bukan menunggu laporan rutin.

Contoh: Kalium 7,0 mmol/L langsung ditelepon ke ruang rawat, lalu dicatat siapa yang menerima dan jam berapa.