Troubleshooting Masalah Mutu Laboratorium

Sistem Manajemen Mutu II, Pertemuan 6

Bramadi Arya, S.Si., M.Biotech.

Program Studi D4 Teknologi Laboratorium Medik, Universitas Syedza Saintika

Yang kita kerjakan hari ini

Sub-CPMK-06 (RPS): Menunjukkan partisipasi aktif dalam diskusi troubleshooting masalah mutu laboratorium.

  1. Troubleshooting sebagai cara berpikir sistematis.
  2. Alur penelusuran dari sinyal masalah sampai tindakan.
  3. Petunjuk untuk membedakan masalah pra-analitik, analitik, dan pasca-analitik.
  4. Tiga kasus untuk dibahas berkelompok.

Minggu lalu kita punya alarm, hari ini kita belajar menelusuri sumbernya

  • QC internal dan eksternal memberi sinyal bahwa ada yang tidak beres.
  • Aturan Westgard memberi petunjuk awal: acak atau sistematik.
  • Sekarang pertanyaannya: apa yang dikerjakan setelah alarm berbunyi?

Mengulang pemeriksaan sampai kontrol lolos bukan troubleshooting.

Troubleshooting adalah penelusuran yang sistematis

  • Dimulai dari sinyal: kontrol menyimpang, hasil pasien tidak masuk akal, atau ada keluhan dari dokter.
  • Dikerjakan dengan urutan, bukan menebak.
  • Setiap langkah dicatat supaya bisa ditelusuri dan dipelajari orang lain.
  • Berakhir dengan penyebab yang terbukti atau dengan eskalasi, bukan dengan dugaan.

Alat analisis hematologi

Alur penelusuran dari sinyal sampai tindakan

Alur troubleshooting dari QC ditolak, menahan hasil, menentukan pola, memeriksa penyebab, mengulang QC, sampai lolos atau eskalasi

Alur troubleshooting sederhana untuk QC yang menyimpang.

Diagram buatan sendiri.

Empat pertanyaan awal

  1. Apa yang berubah? Reagen, lot, kalibrasi, petugas, alat, atau lingkungan.
  2. Sejak kapan masalah muncul?
  3. Apakah semua pemeriksaan terpengaruh atau hanya satu?
  4. Apakah polanya tiba-tiba atau bergeser bertahap?

Setengah dari penelusuran adalah mengajukan pertanyaan yang tepat.

Pola kesalahan memberi petunjuk tentang penyebab

Pola Dugaan penyebab yang perlu diperiksa
Titik melompat tiba-tiba (acak) Gelembung udara, jarum pipet tersumbat, kuvet kotor, pengenceran kontrol keliru
Pergeseran bertahap (sistematik) Lot reagen baru, kalibrasi, suhu atau penyimpanan, bahan kontrol rusak
Semua pemeriksaan terganggu Sumber daya atau sistem: listrik, suhu ruangan, air
Hanya sampel tertentu Masalah pra-analitik: tabung, hemolisis, volume

Diadaptasi dari Ialongo, 2025

Masalah mutu bisa berasal dari tiga tahap

  • Pra-analitik: tabung salah, sampel hemolisis, volume kurang, label tidak sesuai. Review Srinivasaragavan dkk. (2024) merangkum 80 sampai 93% kesalahan laboratorium berasal dari tahap ini.
  • Analitik: reagen, kalibrasi, alat, dan kontrol.
  • Pasca-analitik: salah salin, salah satuan, hasil terlambat, nilai kritis tidak dilaporkan.

QC normal tidak menjamin hasil benar; masalahnya bisa di tahap pra- atau pasca-analitik.

Aturan yang menjaga penelusuran tetap rapi

  • Tahan hasil pasien sampai penyebab diketahui.
  • Ubah satu hal pada satu waktu, lalu ulang kontrol.
  • Catat apa yang diubah, jam berapa, dan apa hasilnya.
  • Jangan mengulang kontrol berkali-kali tanpa mengubah apa pun.
  • Eskalasi ke penyelia atau teknisi bila pemeriksaan dasar tidak menyelesaikan masalah.

Kasus A: kolesterol naik bersamaan sejak Senin

Kontrol kolesterol tingkat normal dan abnormal sama-sama bergeser naik sejak Senin. Hari Senin pagi, botol reagen baru dari lot yang berbeda mulai dipakai.

  1. Apa dugaan pola kesalahannya, acak atau sistematik?
  2. Apa yang perlu diperiksa lebih dulu?
  3. Bagaimana dengan hasil pasien sejak Senin?

Kasus B: satu titik jauh di luar batas

Hari ini satu kontrol glukosa melewati +3 SD. Semua kontrol dan semua hasil pada hari-hari sebelumnya normal. Setelah diulang, kontrol kembali normal.

  1. Pola kesalahan apa yang paling mungkin?
  2. Apakah cukup berhenti di sini karena sudah normal setelah diulang?
  3. Apa yang perlu dicatat?

Kasus C: banyak sampel hemolisis dari satu ruang rawat

Dalam dua minggu terakhir, sampel dari satu ruang rawat inap sering hemolisis. QC alat normal. Sampel dari ruang lain jarang bermasalah.

  1. Di tahap mana masalah ini kemungkinan terjadi?
  2. Apakah perlu memanggil teknisi alat?
  3. Siapa yang perlu dilibatkan dan apa tindakannya?

Cara kerja kelompok

  1. Bagi peran: ketua, juru catat, dan penyaji.
  2. Baca kasus dan diskusikan tiga pertanyaan.
  3. Tuliskan alur penelusuran kelompok dalam empat sampai lima langkah.
  4. Sampaikan hasilnya kepada kelas dalam dua sampai tiga menit.

Penilaian pertemuan ini

  • Teknik penilaian: studi kasus.
  • Yang dinilai: keterlibatan aktif dalam diskusi, kualitas analisis masalah, ketepatan identifikasi penyebab, relevansi solusi yang diusulkan, kemampuan menyajikan kasus, dan penguasaan teknik troubleshooting.

RPS TLM OBE-139b, Sub-CPMK-06

Benang merah

  • Pertemuan 7: dari penyebab yang tampak ke akar penyebab dengan fishbone, 5 Why, dan fault tree.
  • Pertemuan 7 juga membahas CAPA, yaitu tindakan koreksi dan pencegahan yang terukur.
  • Kasus hari ini boleh dikembangkan lagi minggu depan.

Ringkasan

  • Troubleshooting adalah penelusuran sistematis, bukan menebak.
  • Tahan hasil pasien, kenali pola, periksa penyebab, ubah satu hal, ulang kontrol.
  • Masalah bisa berada di tahap pra-analitik, analitik, atau pasca-analitik.
  • Catat setiap langkah dan eskalasi bila perlu.

Rujukan

  • Ialongo C. Use of Hotelling’s T2 multivariate control chart for effective monitoring of a laboratory test with a 3-level quality control scheme. Biochem Med (Zagreb). 2025;35(2):020701. doi:10.11613/BM.2025.020701
  • Srinivasaragavan D, Ramalingam K, Ramani P. Root cause analysis: unraveling common laboratory challenges. Cureus. 2024;16(2):e53393. doi:10.7759/cureus.53393
  • Gruber L, Hausch A, Mueller T. Internal quality controls in the medical laboratory: a narrative review of the basic principles of an appropriate quality control plan. Diagnostics. 2024;14(19):2223. doi:10.3390/diagnostics14192223
  • Westgard JO. “Westgard Rules” and multirules. Westgard QC. https://www.westgard.com/westgard-rules.html

Terima kasih

Istilah: Aturan Westgard

Sekumpulan aturan untuk memutuskan apakah hasil kontrol diterima atau ditolak berdasarkan pola titik pada bagan Levey-Jennings. Nama aturan menunjukkan jumlah titik dan batasnya; 1-3s berarti satu titik melewati 3 SD.

Contoh: Dua titik berturut-turut di atas +2 SD melanggar aturan 2-2s, tanda kesalahan sistematik.

Istilah: Nilai kritis

Hasil pemeriksaan yang menunjukkan keadaan yang dapat mengancam jiwa sehingga harus segera dilaporkan kepada dokter atau perawat, bukan menunggu laporan rutin.

Contoh: Kalium 7,0 mmol/L langsung ditelepon ke ruang rawat, lalu dicatat siapa yang menerima dan jam berapa.

Istilah: Fault tree

Diagram pohon dari satu kejadian masalah ke penyebab-penyebabnya, memakai gerbang logika DAN (semua penyebab harus terjadi) dan ATAU (satu penyebab cukup).

Contoh: Hasil salah dilaporkan ATAU karena salah input, ATAU karena kontrol gagal DAN tidak ada yang memeriksa.

Istilah: Diagram fishbone

Diagram tulang ikan (diagram Ishikawa) untuk memetakan kemungkinan penyebab masalah dalam beberapa kategori, misalnya manusia, metode, alat, bahan, lingkungan, dan spesimen.

Contoh: Masalah “kontrol di luar batas” ditulis di kepala ikan, kemungkinan penyebabnya ditulis di tiap tulang.

Istilah: Metode 5 Why

Cara menelusuri akar penyebab dengan bertanya “mengapa” berulang kali sampai ditemukan penyebab yang bisa diperbaiki oleh sistem.

Contoh: Mengapa kontrol ditolak? Langkah terlewat. Mengapa? Analis belum dilatih. Mengapa? Metode belum ada di dokumen pelatihan.

Istilah: CAPA

Corrective and preventive action: tindakan koreksi untuk memperbaiki masalah yang sudah terjadi dan tindakan pencegahan agar tidak terulang.

Contoh: Koreksi: melatih ulang analis. Pencegahan: setiap metode baru wajib masuk dokumen pelatihan sebelum dipakai.