Sistem Manajemen Mutu II, Pertemuan 4
Program Studi D4 Teknologi Laboratorium Medik, Universitas Syedza Saintika
Sub-CPMK-04 (RPS): Merancang proyek monitoring dan evaluasi mutu pada satu parameter pemeriksaan laboratorium.
Satu parameter, satu pertanyaan mutu, satu siklus perbaikan.
| Aspek | Yang dilihat |
|---|---|
| Desain proyek | Ketepatan rancangan monitoring |
| Data awal | Kelengkapan baseline |
| Implementasi | Ketepatan sistem monitoring yang dijalankan |
| Analisis | Kedalaman dan kelengkapan analisis data |
| Rekomendasi | Kualitas rekomendasi perbaikan |
| Waktu | Ketepatan menyelesaikan proyek |
RPS TLM OBE-139b, Sub-CPMK-04
| Contoh parameter | Kelompok penyakit | Mengapa menarik dipantau |
|---|---|---|
| Glukosa darah | Tidak menular (diabetes) | Pemeriksaan sangat sering dan sensitif terhadap penundaan sampel |
| Kolesterol | Tidak menular | Sering diperiksa, hasil dipakai untuk memantau terapi |
| Pemeriksaan dahak untuk TB | Menular | Kualitas sediaan memengaruhi hasil |
| Tes cepat HIV | Menular | Alur pelaporan dan konfirmasi perlu rapi |
Pertanyaan yang baik membuat sisanya mudah. Pertanyaan yang kabur membuat semuanya sulit.
Diagram buatan sendiri.
Contoh: persentase sampel glukosa yang ditolak = (sampel glukosa ditolak / seluruh sampel glukosa diterima) × 100%.
| Langkah | Pada Bouzid dkk. (2018) |
|---|---|
| Pertanyaan | Ketidaksesuaian apa yang terjadi di ruang pengambilan sampel? |
| Data awal | Audit internal tahap pra-analitik |
| Tindakan | Alat mutu dan tindakan korektif diterapkan |
| Pemeriksaan | Frekuensi ketidaksesuaian diukur ulang |
| Hasil | Total ketidaksesuaian turun 52% (P = 0,004) |
Pertanyaan analisis: apa yang berubah, kapan berubah, dan mengapa mungkin berubah?

Grafik run memperlihatkan perubahan dari waktu ke waktu, bukan hanya rerata dua periode.
Data Amager Hvidovre Hospital, Denmark (esundhed.dk), dari paket qicharts2
| Kurang baik | Lebih baik |
|---|---|
| Petugas perlu lebih teliti | Pelatihan pengambilan sampel untuk semua flebotomis, selesai bulan depan, target hemolisis turun dari 1,5% menjadi di bawah 1% |
| Perbaiki pencatatan | Satu formulir penolakan baku dengan kolom alasan terstandar, dipakai mulai awal bulan |
Rekomendasi memuat tindakan, penanggung jawab, tenggat, dan indikator keberhasilan.
Data kondisi awal sebelum perbaikan dilakukan. Baseline menjadi pembanding untuk menilai apakah perbaikan berhasil.
Contoh: Tiga bulan sebelum pelatihan, sampel hemolisis rata-rata 1,5%; angka ini menjadi baseline.
Lama waktu dari sampel diterima laboratorium sampai hasil dilaporkan. Dalam bahasa Inggris disebut turnaround time (TAT).
Contoh: Sampel cito diterima pukul 08.00 dan hasil dikirim pukul 08.50: waktu tunggu 50 menit.
Penjelasan rinci tentang apa yang dihitung dan apa yang tidak, supaya semua petugas mengukur dengan cara yang sama.
Contoh: “Sampel hemolisis” = sampel serum dengan indeks hemolisis di atas batas alat, tidak termasuk sampel yang tampak keruh karena lipemia.
Grafik data dari waktu ke waktu dengan garis median. Pola tertentu, misalnya banyak titik berturut-turut di satu sisi median, menandakan perubahan yang nyata, bukan kebetulan.
Contoh: Persentase sampel hemolisis per minggu sebelum dan sesudah pelatihan flebotomi.
Corrective and preventive action: tindakan koreksi untuk memperbaiki masalah yang sudah terjadi dan tindakan pencegahan agar tidak terulang.
Contoh: Koreksi: melatih ulang analis. Pencegahan: setiap metode baru wajib masuk dokumen pelatihan sebelum dipakai.
Root cause analysis: penelusuran untuk menemukan penyebab dasar suatu masalah, bukan hanya gejalanya, supaya masalah tidak terulang.
Contoh: Kontrol sering keluar batas bukan karena “analis lalai”, tetapi karena metode baru belum ada di dokumen pelatihan.
Siklus perbaikan empat tahap: Plan (rencanakan), Do (jalankan), Check (periksa hasilnya), Act (tindak lanjuti dan bakukan).
Contoh: Rencana pelatihan flebotomi, pelaksanaan pelatihan, pengukuran ulang hemolisis, lalu perubahan SOP.

Sistem Manajemen Mutu II · Prodi D4 TLM Universitas Syedza Saintika