Monitoring Mutu pada Tahap Pra-analitik, Analitik, dan Pasca-analitik

Sistem Manajemen Mutu II, Pertemuan 2

Bramadi Arya, S.Si., M.Biotech.

Program Studi D4 Teknologi Laboratorium Medik, Universitas Syedza Saintika

Yang kita kerjakan hari ini

Sub-CPMK-02 (RPS): Menganalisis sistem monitoring mutu pada tahap pra-analitik, analitik, dan pasca-analitik.

  1. Tiga tahap pemeriksaan dan di mana kesalahan paling sering muncul.
  2. Parameter kritis yang dipantau pada tiap tahap.
  3. Indikator mutu dan cara mengumpulkan datanya.
  4. Latihan membaca data monitoring.

Pertemuan lalu kita punya peta, hari ini kita belajar mengukur

  • Klausul 5 meminta tujuan mutu yang terukur.
  • Klausul 7 membagi pekerjaan laboratorium dari pra-pemeriksaan sampai pasca-pemeriksaan.
  • Pertanyaan hari ini: bagaimana tujuan itu diukur pada tiap tahap?

Sesuatu yang tidak diukur sulit diperbaiki.

Pemeriksaan laboratorium punya tiga tahap

Tiga tahap pemeriksaan laboratorium: pra-analitik, analitik, pasca-analitik, dengan contoh indikator

Tiga tahap pemeriksaan dan contoh indikator mutunya.

Diagram buatan sendiri.

Sebagian besar kesalahan terjadi di luar alat

  • Review Srinivasaragavan dkk. (2024) merangkum bahwa 80 sampai 93% kesalahan laboratorium berasal dari tahap pra-analitik.
  • Pada satu laboratorium biokimia klinik, Atay dkk. (2014) mencatat 1.035.743 tabung dalam satu periode, dan 0,65% di antaranya ditolak. Pada tabung koagulasi angkanya 2,28%.
  • Monitoring mutu yang hanya mengawasi alat akan melewatkan sebagian besar masalah.

Tahap pra-analitik: parameter yang perlu dipantau

Titik kritis Yang dipantau
Permintaan Kelengkapan data pasien dan jenis pemeriksaan
Persiapan pasien Puasa atau waktu pengambilan sesuai syarat pemeriksaan
Pengambilan Identitas dan label, jenis tabung, volume, hemolisis
Transportasi Waktu dan suhu pengiriman
Penerimaan Sampel ditolak dan alasannya

Tabung pengambilan darah

Tahap analitik: memastikan pengukuran bekerja dengan benar

  • Alat: pemeliharaan rutin, kalibrasi, dan kondisi reagen.
  • Kontrol: QC internal setiap hari kerja dan partisipasi dalam QC eksternal.
  • Hasil: apakah kontrol berada dalam batas yang ditetapkan.
  • Rekaman: setiap penyimpangan dicatat beserta tindakannya.

Detail QC internal dan eksternal kita bahas pada pertemuan 5.

Tahap pasca-analitik: dari hasil sampai ke dokter

Titik kritis Yang dipantau
Validasi hasil Hasil dicek terhadap data pasien dan kontrol sebelum dirilis
Pelaporan Ketepatan penulisan, satuan, dan nilai rujukan
Nilai kritis Apakah dilaporkan ke dokter dan berapa lama
Waktu tunggu Dari sampel diterima sampai hasil dilaporkan
Koreksi laporan Berapa laporan yang harus diperbaiki setelah dirilis

Indikator mutu mengubah pengamatan menjadi angka

  • Indikator adalah ukuran yang dihitung berkala dari data rutin.
  • Semua langkah pemeriksaan sebaiknya dipantau, termasuk yang dikerjakan petugas di luar laboratorium.
  • Data yang dikumpulkan dengan cara seragam memungkinkan pemantauan tren dan pembandingan antar laboratorium.
  • Kelompok kerja IFCC (WG-LEPS) menyediakan daftar indikator mutu yang bisa dipakai gratis.

Contoh indikator dan cara menghitungnya

Indikator Cara menghitung Tahap
Persentase sampel ditolak (sampel ditolak / sampel diterima) × 100% Pra
Persentase sampel hemolisis (sampel hemolisis / sampel diterima) × 100% Pra
Persentase QC di luar batas (kejadian QC ditolak / seluruh QC) × 100% Analitik
Waktu tunggu hasil Waktu laporan dikirim dikurangi waktu sampel diterima Pasca
Persentase laporan dikoreksi (laporan dikoreksi / laporan dirilis) × 100% Pasca

Indikator mutu yang diusulkan IFCC WG-LEPS

Pra-analitik
Kesalahan identifikasi pasien
Permintaan pemeriksaan tidak tepat
Kesalahan transkripsi permintaan
Permintaan tidak terbaca
Jenis sampel salah
Volume pengisian salah
Sampel tidak layak untuk transportasi dan penyimpanan
Sampel terkontaminasi
Sampel hemolisis
Sampel membeku
Waktu pengambilan sampel tidak tepat
Analitik
Pemeriksaan tanpa cakupan QC internal
Kinerja QC internal tidak dapat diterima
Pemeriksaan tanpa cakupan EQA atau uji profisiensi
Kinerja EQA atau uji profisiensi tidak dapat diterima
Kesalahan transkripsi data
Pasca-analitik
Waktu tunggu hasil tidak tepat
Laporan laboratorium salah
Pemberitahuan hasil kritis
Komentar interpretatif

Cadamuro dkk., 2018, Tabel 1 (terjemahan), CC BY-NC-ND 4.0

Mengumpulkan data mutu

  • Tentukan sumber data: formulir penolakan sampel, rekaman QC, atau sistem informasi laboratorium.
  • Tentukan siapa yang mencatat dan seberapa sering.
  • Gunakan definisi yang sama untuk semua petugas.
  • Rekap per bulan, lalu lihat polanya dari bulan ke bulan.

Data yang dicatat asal-asalan menghasilkan kesimpulan yang asal-asalan.

Latihan: membaca data penolakan sampel

Alasan penolakan Jumlah
Hemolisis 18
Volume tidak cukup 11
Identitas tidak sesuai 6
Tabung salah 5
Total ditolak 40 dari 4.000 sampel

Data ilustrasi untuk latihan.

Diagram Pareto: mulai dari penyebab terbesar

Diagram Pareto empat alasan penolakan sampel: hemolisis 18, volume tidak cukup 11, identitas tidak sesuai 6, tabung salah 5

Alasan penolakan diurutkan dari yang terbanyak. Garis menunjukkan persentase kumulatif.

Dua penyebab teratas sudah mencakup sekitar 73% penolakan.

Data ilustrasi latihan; grafik dibuat dengan qicharts2

Pertanyaan diskusi

  1. Dari data tadi, indikator apa yang akan kalian pantau bulan depan?
  2. Siapa yang mencatat dan dengan formulir apa?
  3. Bagaimana kalian tahu bahwa perbaikan berhasil?
  4. Apa yang berbeda kalau datanya dikumpulkan di laboratorium rumah sakit besar dan di laboratorium klinik kecil?

Penilaian pertemuan ini

  • Teknik penilaian: studi kasus.
  • Yang dinilai: ketepatan analisis sistem monitoring mutu, pemahaman parameter kritis pada tiga tahap, kemampuan menafsirkan data QC, dan keterlibatan dalam diskusi.

RPS TLM OBE-139b, Sub-CPMK-02

Benang merah

  • Pertemuan 3: monitoring menghasilkan data. Evaluasi mutu dan audit internal memeriksa apakah sistem berjalan seperti yang dituliskan.
  • Pertemuan 4: kalian akan merancang proyek monitoring untuk satu parameter.
  • Pertemuan 5: tahap analitik didalami lewat QC internal dan eksternal.

Ringkasan

  • Pemeriksaan laboratorium punya tiga tahap, dan masing-masing perlu dipantau.
  • Kesalahan banyak terjadi sebelum sampel sampai ke alat.
  • Indikator mutu menjadikan pengamatan sebagai angka yang bisa dibandingkan.
  • Definisi dan cara pengumpulan data yang seragam adalah syarat agar angka bermakna.

Rujukan

  • Cadamuro J, Gaksch M, Mrazek C, Haschke-Becher E, Plebani M. How do we use the data from pre-analytical quality indicators and how should we? J Lab Precis Med. 2018;3(4). doi:10.21037/jlpm.2018.04.04
  • Srinivasaragavan D, Ramalingam K, Ramani P. Root cause analysis: unraveling common laboratory challenges. Cureus. 2024;16(2):e53393. doi:10.7759/cureus.53393
  • Atay A, Demir L, Cuhadar S, dkk. Clinical biochemistry laboratory rejection rates due to various types of preanalytical errors. Biochem Med (Zagreb). 2014;24(3):376-382. doi:10.11613/BM.2014.040
  • Linko S, Boursier G, Bernabeu-Andreu FA, dkk. EN ISO 15189 revision: EFLM Committee Accreditation and ISO/CEN standards (C: A/ISO) analysis and general remarks on the changes. Clin Chem Lab Med. 2025. doi:10.1515/cclm-2024-1451
  • International Organization for Standardization. ISO 15189:2022 Medical laboratories: requirements for quality and competence. Geneva: ISO.
  • Anhøj J. qicharts2: Quality Improvement Charts. Paket R. https://github.com/anhoej/qicharts2

Terima kasih

Istilah: Nilai kritis

Hasil pemeriksaan yang menunjukkan keadaan yang dapat mengancam jiwa sehingga harus segera dilaporkan kepada dokter atau perawat, bukan menunggu laporan rutin.

Contoh: Kalium 7,0 mmol/L langsung ditelepon ke ruang rawat, lalu dicatat siapa yang menerima dan jam berapa.

Istilah: Waktu tunggu hasil

Lama waktu dari sampel diterima laboratorium sampai hasil dilaporkan. Dalam bahasa Inggris disebut turnaround time (TAT).

Contoh: Sampel cito diterima pukul 08.00 dan hasil dikirim pukul 08.50: waktu tunggu 50 menit.

Istilah: Indikator mutu

Ukuran yang dihitung secara berkala dari data rutin untuk memantau mutu layanan laboratorium.

Contoh: Persentase sampel ditolak per bulan, atau waktu tunggu hasil pemeriksaan cito.

Istilah: Uji profisiensi (EQA)

Penilaian mutu dari pihak luar. Penyelenggara mengirim sampel yang nilainya tidak diketahui peserta. Laboratorium memeriksanya seperti sampel pasien, lalu hasilnya dibandingkan dengan nilai target atau dengan hasil laboratorium lain. Di Indonesia dikenal sebagai Pemantapan Mutu Eksternal (PME).

Contoh: Laboratorium menerima serum kontrol dari penyelenggara PME tiga kali setahun, memeriksa glukosa dan kolesterolnya, lalu mengirim hasilnya untuk dinilai.